Setoran Pajak RI Anjlok 30,2% Awal 2025: Ini Penyebab & Dampaknya ke APBN |
Kata kunci utama: setoran pajak turun 2025, penyebab penerimaan pajak anjlok, dampak defisit APBN 2025
Jakarta, 7 Mei 2025 — Setoran pajak Indonesia dalam dua bulan pertama 2025 mengalami penurunan tajam. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, hingga Februari 2025, penerimaan pajak baru mencapai Rp 187,8 triliun, atau 8,6% dari target Rp 2.189,3 triliun.
Angka ini anjlok 30,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp 269,02 triliun).
🧮 Defisit APBN 2025 Mulai Menganga
Hingga 28 Februari 2025, APBN 2025 mencatat defisit 0,13% atau sekitar Rp 31,2 triliun.
Berikut rinciannya:
Komponen | Nilai (Rp triliun) |
---|---|
Belanja negara | Rp 348,1 |
Pendapatan negara | Rp 316,9 |
Defisit | Rp 31,2 (0,13% PDB) |
❓ Kenapa Penerimaan Pajak Turun Tajam?
Berikut faktor-faktor utama penyebab anjloknya setoran pajak menurut Kemenkeu dan para analis:
1️⃣ Harga Komoditas Ekspor Turun
Komoditas | Penurunan Harga (YoY) |
---|---|
Batu bara | –11,8% |
Minyak | –5,2% |
Nikel | –5,9% |
“Faktor pertama adalah penurunan harga komoditas utama ekspor Indonesia,” kata Wamenkeu Anggito Abimanyu.
2️⃣ Masalah Administrasi Pajak
-
Penerapan Tarif Efektif Rata-rata (TER) untuk PPh 21
-
Relaksasi pembayaran PPN dalam negeri → bisa dibayar hingga 10 Maret 2025
3️⃣ Pengembalian Lebih Bayar (Restitusi) Pajak
-
Restitusi pajak 2024 dibayarkan di Januari 2025
-
Total restitusi mencapai Rp 265,67 triliun (+18,8% YoY)
“Restitusi tinggi berdampak signifikan ke penerimaan awal tahun,” jelas Nailul Huda, Direktur Ekonomi Celios.
4️⃣ Gangguan Sistem Coretax
-
Gangguan sistem baru Coretax menghambat pelaporan PPN
-
Pelaku usaha menahan transaksi hingga Februari 2025
5️⃣ Kebijakan Populis Pemerintahan Baru (Prabowo)
Kebijakan | Dampak ke Pajak |
---|---|
Diskon tiket pesawat mudik (PPN dipangkas) | Penerimaan PPN berkurang |
Diskon properti & kendaraan listrik | Penerimaan pajak berkurang |
“Kebijakan populis ini lebih bersifat politis, bukan ekonomis. Dampaknya nyata ke fiskal,” kata Ronny Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution.
6️⃣ Kontraksi Sektor Manufaktur & Jasa
-
Kinerja sektor manufaktur & jasa melemah
-
Berkontribusi pada penurunan penerimaan pajak
⚠️ Risiko: Defisit Membengkak & Utang Naik
Nailul Huda memperingatkan risiko defisit anggaran bisa melewati batas 3% PDB di akhir 2025 jika tren ini berlanjut.
Indikator | Kinerja |
---|---|
Belanja pemerintah | –7% YoY |
Belanja rutin (K/L) | –30,33% |
Belanja program (Makan Bergizi Gratis, dll) | +6,91% |
Pertumbuhan utang (Jan 2025) | +44,77% |
Pertumbuhan utang (Jan–Feb 2025) | +19,42% (~Rp 220 triliun) |
“Jika pola ini berlanjut, pengelolaan utang bisa menjadi masalah serius,” kata Huda.
🌏 Harapan: Ekspor Komoditas & Pemulihan Fiskal
Meski tantangan berat, Ronny Sasmita menilai ada peluang dari potensi perang dagang AS–China yang bisa menjaga harga komoditas tetap tinggi.
“Harga batu bara, CPO, gas, dan komoditas utama bisa menopang ekspor dan penerimaan negara,” ujarnya.
📝 Kesimpulan: Tekanan Berat, Tapi Ada Harapan
Setoran pajak RI anjlok 30,2% di awal 2025, diperparah defisit APBN dan lonjakan utang. Meski demikian, potensi pemulihan penerimaan dari ekspor komoditas dan pemulihan ekonomi masih terbuka. Kebijakan fiskal yang hati-hati dibutuhkan agar defisit tak membengkak di akhir tahun.
🔍 Meta Description (SEO)
Setoran pajak Indonesia awal 2025 turun 30,2%. Simak penyebab utama anjloknya penerimaan pajak RI dan dampaknya terhadap defisit APBN 2025