Kata kunci utama: perang dagang AS, tarif impor Trump, dampak ke Indonesia
Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengobarkan perang dagang ke sejumlah negara mitra utama.
Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan bakal menerapkan tarif impor tinggi mulai 20 Januari — tepat di hari pertama masa jabatannya.
Tiga Negara Jadi Target Awal
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan akan mengenakan tarif:
-
25% untuk produk dari Meksiko dan Kanada
-
10% untuk produk dari China
“Tarif ini akan tetap berlaku hingga narkoba, khususnya Fentanyl, dan semua imigran ilegal menghentikan invasi ke negara kita!” tulis Trump.
Kebijakan ini diklaim sebagai langkah mencegah imigran ilegal dan penyelundupan obat-obatan terlarang ke AS.
Indonesia Terancam Tiga Dampak Besar
Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, memperingatkan Indonesia agar lebih siaga dibandingkan periode perang dagang pertama dulu.
Berikut potensi ancaman utama bagi Indonesia:
1️⃣ Capital Outflow (Arus Modal Keluar)
Ketidakpastian global akibat perang dagang akan mendorong investor menarik dana dari negara berkembang seperti Indonesia, lalu “pulang kampung” ke AS.
"Investor akan mencari kepastian di negara yang ekonominya lebih stabil, terutama Amerika," jelas Ronny.
2️⃣ Ancaman Ekspor Terpukul
Jika China membalas kebijakan AS, Indonesia bisa terdampak karena Beijing adalah mitra dagang utama.
Potensi yang terjadi:
-
Ekspor Indonesia ke AS dan China terkontraksi
-
Barang China membanjiri pasar Indonesia karena tak bisa masuk AS
"Ini bisa memukul industri manufaktur nasional dan menggerus kelas menengah," tegas Ronny.
3️⃣ Potensi Dicabutnya GSP
Ada risiko keistimewaan tarif rendah (GSP) untuk produk Indonesia ke AS dicabut.
Kalau ini terjadi, ekspor Indonesia ke AS bisa terjun bebas.
"Tanpa GSP, harga produk kita di AS jadi tak kompetitif," jelas Ronny.
Sektor Terdampak: Tekstil Paling Rentan
Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI, menyoroti sektor yang paling rentan:
-
Tekstil
-
Karet
-
Pakaian jadi
-
Berbagai komoditas ekspor lainnya
"Saat perang dagang pertama, relokasi investasi atau perdagangan ke Indonesia kecil. Vietnam dan Meksiko justru lebih diuntungkan," jelasnya.
Solusi: Reformasi Investasi dan Perdagangan
Riefky menegaskan, pemerintah harus cepat berbenah jika ingin memanfaatkan peluang atau meminimalkan risiko:
✅ Perbaiki iklim investasi
✅ Tingkatkan standar produk ekspor
✅ Buka lebih lebar akses perdagangan
"Indonesia ini cukup protektif. Kita harus lebih open agar bisa menikmati limpahan peluang dari ketegangan AS-China," tutupnya.
Kesimpulan: Perang Dagang Jilid II Bukan Isapan Jempol
Langkah Trump jelas akan memicu ketegangan dagang global.
Indonesia harus siaga, agar tak kembali jadi penonton seperti perang dagang jilid pertama.
Ikuti terus perkembangan ketegangan dagang AS dan dampaknya ke Indonesia hanya di sini! 🌏📈