Martin Lorentzon: Dari Mimpi Bocah Jadi Triliuner Teknologi Berkat Spotify |
“Bermimpilah besar.” Kalimat ini bukan sekadar motivasi klise, tapi bukti nyata dalam perjalanan hidup Martin Lorentzon.
Siapa sangka, mimpi masa kecil seorang bocah asal Swedia yang bercita-cita jadi miliarder kini terwujud bahkan lebih dari itu—Martin Lorentzon resmi masuk jajaran triliuner dunia berkat kesuksesan Spotify.
Menurut Forbes, kekayaan Martin Lorentzon kini mencapai US$12,9 miliar atau sekitar Rp217,54 triliun (kurs Rp16.863/USD). Angka fantastis ini menempatkannya sebagai orang terkaya ke-189 di dunia per 2025.
🧠Siapa Sebenarnya Martin Lorentzon?
Lahir pada 1 April 1969, Martin Lorentzon tumbuh dari keluarga sederhana. Ibunya seorang guru, dan ayahnya bekerja sebagai ekonom. Sejak kecil, ia sudah punya mimpi besar: menjadi orang kaya.
Lucunya, saat duduk di bangku SD Särlaskolan, ia pernah bilang ke teman-temannya ingin jadi miliarder dengan cara menjual kotak korek api ke seluruh warga Tiongkok. Impian yang terdengar konyol, tapi dari sanalah semangat dan visinya terbentuk.
🎓 Pendidikan Bukan Sekadar Formalitas
Di masa SMA, meski menikmati kehidupan remaja dan pesta seperti kebanyakan anak muda, Lorentzon tetap menomorsatukan pendidikan. Ia bahkan sering "izin sakit" agar bisa absen dari pesta dan fokus belajar.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Chalmers University of Technology, mengambil jurusan Ekonomi Industri, dan lulus dengan gelar Master of Science. Tak berhenti di situ, ia juga sempat belajar di:
-
Gothenburg School of Business, Economics and Law
-
Stockholm School of Economics
-
Stockholm University (kursus retorika dan argumentasi)
🚀 Awal Karier Hingga Keputusan Besar Pindah ke Silicon Valley
Karier profesionalnya dimulai pada 1995 di perusahaan telekomunikasi Telia. Namun, Lorentzon merasa ini bukan jalannya. Ia lalu hijrah ke San Francisco dan bergabung dengan mesin pencari AltaVista.
Di sinilah ia mulai membangun koneksi di dunia teknologi, termasuk bertemu dengan Felix Hagnö, pewaris bisnis fashion ternama Swedia. Mereka mendirikan Tradedoubler pada 1999—sebuah perusahaan digital marketing yang meroket ke seluruh Eropa dan beroperasi di lebih dari 80 negara.
Perusahaan itu sukses besar dan melantai di Bursa Efek Stockholm. Tapi pada 2005, Lorentzon menjual sahamnya dan kembali ke Swedia. Apa yang terjadi selanjutnya? Titik balik hidupnya.
🎧 Lahirnya Spotify: Solusi Musik Legal dan Praktis
Di Swedia, Lorentzon bertemu dengan Daniel Ek, pengusaha muda dan ahli teknologi. Meskipun berbeda karakter, mereka cocok secara visi. Sering nongkrong bareng di apartemen Ek, keduanya frustasi dengan sulitnya akses musik legal.
Saat itu, platform seperti Napster memang populer, tapi cenderung ilegal. Dari keresahan itulah muncul ide: kenapa nggak buat layanan streaming musik legal, murah, dan gampang diakses?
Boom. Lahir Spotify pada 2008.
📈 Spotify Meledak, Kekayaan Lorentzon Melejit
Dengan model berlangganan murah (sekitar US$10/bulan) dan akses ke jutaan lagu, Spotify langsung menarik perhatian dunia.
-
2010: 10 juta pengguna
-
2020: 144 juta pelanggan berbayar, 320 juta pengguna aktif
-
2021: 356 juta pengguna
-
2024: 615 juta pengguna aktif, termasuk 239 juta pelanggan berbayar
Pertumbuhan masif ini mengantar Spotify jadi raksasa teknologi global dan menjadikan Lorentzon salah satu orang terkaya di dunia.
💬 Kesimpulan: Mimpi Boleh Sederhana, Tapi Eksekusinya Harus Luar Biasa
Perjalanan hidup Martin Lorentzon adalah bukti bahwa mimpi masa kecil, kalau disertai dengan fokus, pendidikan, ketekunan, dan timing yang tepat, bisa menjadi kenyataan luar biasa.
Jadi, jangan remehkan mimpi-mimpi sederhana kamu hari ini. Siapa tahu, seperti Martin Lorentzon, kamu sedang merancang takdir triliuner masa depan.
✨ Tertarik baca kisah inspiratif tokoh dunia lainnya? Follow terus blog ini dan nyalakan notifikasi agar nggak ketinggalan!