Kisah Sukses Surono: Dari Karyawan Pabrik Jadi Juragan Tanaman Hias Berkat KUR BRI |
Kata kunci utama: KUR BRI, usaha tanaman hias, UMKM sukses
Dari Pabrik ke Kebun: Awal Mula Perjalanan Surono
Siapa sangka, Surono (45) yang dulu lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Kutoarjo, Jawa Tengah, kini sukses jadi pengusaha tanaman hias? Dulu ia bekerja di pabrik di Cikarang, Jawa Barat, tapi tak sampai dua tahun, ia memilih banting setir.
Tahun 2001, Surono memutuskan membantu kakaknya berjualan tanaman hias di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan—bisnis yang sudah dirintis sejak 1980. Dari sini, kisah inspiratifnya bermula.
Merintis dari Nol Sampai Punya Ribuan Pot
Awalnya, Surono hanya belajar dasar-dasar menanam dan merawat tanaman. Setelah merasa cukup percaya diri, ia membuka toko sendiri di Taman Anggrek Ragunan Blok 8 pada 2015.
Tak berhenti di situ, ia juga menyewa lahan di Sawangan, Depok, untuk membudidayakan aglonema dan anthurium—dua jenis tanaman hias favorit. Dari hanya puluhan pot, kini Surono punya ribuan tanaman yang siap jual!
"Awalnya nyicil, sedikit-sedikit. Lama-lama kok bisa penuh gini," cerita Surono.
KUR BRI: Modal yang Membawa Surono ke Level Berikutnya
Untuk mengembangkan usahanya, Surono mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Pada pinjaman pertama, ia mendapat Rp35 juta dengan tenor 2 tahun. Dana ini ia pakai untuk:
-
Menyewa lahan di Sawangan (Rp400 ribu/bulan)
-
Membeli bibit tanaman
-
Membuat kebun tanaman hias
Tak hanya menjual tanaman, Surono juga menerima jasa pembuatan taman untuk rumah dan kantor.
Puncak Keberhasilan Saat Pandemi
Saat pandemi Covid-19, tren tanaman hias melonjak. Omset Surono ikut meroket, bahkan tembus Rp50 juta per bulan. Beberapa jenis aglonema dan anthurium bisa dihargai lebih dari Rp2 juta per pot!
Meski saat ini pasar tanaman hias mulai menurun, Surono masih stabil meraup sekitar Rp10 juta per bulan.
“Namanya usaha, kadang rame, kadang sepi. Tapi tetap ada pembeli,” kata Surono.
Terus Berkembang Berkat KUR BRI
Tahun 2021, Surono kembali mengambil KUR BRI sebesar Rp30 juta, dan awal 2025 ia mengajukan pinjaman ketiga sebesar Rp35 juta. Ia tetap disiplin: selalu melunasi pinjaman lama sebelum ambil yang baru.
Cicilan Rp1,5 juta per bulan dengan bunga rendah tak membebani usahanya.
"Alhamdulillah cicilan saya lancar. Bunganya juga enggak memberatkan," jelas Surono.
BRI: Bukan Cuma Modal, Tapi Juga Pendampingan UMKM
Menurut Erwin Sapari, Kepala Departemen Usaha Mikro BRI RO Jakarta 2, KUR BRI menawarkan bunga rendah—6% untuk pinjaman Rp10–100 juta dan 9% untuk pinjaman di atas Rp100 juta.
BRI juga aktif memberikan pelatihan UMKM, memfasilitasi pameran produk, hingga pelatihan e-commerce agar pelaku usaha seperti Surono makin maju.
“Kami komitmen memudahkan akses modal agar UMKM bisa tumbuh dan berkontribusi bagi ekonomi nasional,” kata Erwin.
KUR BRI 2025: Komitmen Kuat untuk UMKM Indonesia
Hingga Februari 2025, BRI sudah menyalurkan Rp27,72 triliun KUR ke 649.600 pelaku UMKM. Lebih dari 55% dialokasikan ke sektor produksi, termasuk sektor pertanian yang sejalan dengan program ketahanan pangan nasional.
Agustya Hendy Bernadi, Corporate Secretary BRI, menegaskan KUR BRI membantu UMKM tumbuh, berkembang, dan memperkuat ekonomi nasional.
Kesimpulan: Dengan Modal & Semangat, Usaha Bisa Tumbuh Besar
Kisah Surono membuktikan, dengan modal yang tepat dan kerja keras, siapa pun bisa sukses. Dari pabrik ke kebun, dari nol jadi juragan. Dan dengan KUR BRI, akses modal untuk UMKM makin mudah dan terjangkau.
Siap ikuti jejak Surono? Jangan ragu manfaatkan KUR BRI untuk mewujudkan usaha impianmu!